Daftar Perlengkapan Proses Pemakaman Dalam Adat Tionghoa


rumah-duka-adijasa-surabaya(23)

Toko bunga Surabaya – menjadi tempat tujuan saat seseorang membutuhkan bunga ucapan belasungka pada keluarga, kerabat, sahabat atau partner kerja. 

Kematian merupakan peristiwa nyata yang tidak bisa ditolak oleh semua makhluk hidup, dari berbagai kalangan usia, status bahkan adat.


Biasanya dalam proses kematian akan diselenggarakan tata cara pemakaman yang lengkap dengan berbagai perlengkapannya termasuk soal bunga duka Adijasa seperti karangan bunga yang menghiasi tempat pemakaman. 

Bunga ini bisa digunakan dalam proses pemakaman maupun sebagai tanda berbelangsungkawa dari kerabat lain atau kenalan.

Tempat persemayaman dan pemberian bunga papan duka cita

Berdasarkan pada tradisi Tionghoa, bila ada orang yang meninggal maka mayatnya wajib disemayamkan selama beberapa hari, sedangkan keluarga akan melakukan upacara sembahyang. 

Anggota keluarga wajib bergantian menjaga mayat terutama di malam hari, karena menurut kepercayaan jika mayat dilangkahi kucing maka mayat tersebut dapat bangkit lagi. Inilah saat yang tepat bagi sanak family melakukan penyembahan pada roh yang termasuk dari tradisi penghormatan (Hao).

Jenazah Tionghoa umumnya akan disemayamkan di dalam rumah, tapi di jaman modern seperti sekarang kebanyakan orang yang lebih suka menggunakan rumah duka Adijasa agar tidak repot.

Perlengkapan-perlengkapan umum dalam perkabungan

1.      Pakaian orang mati
Sebagai bentuk persiapan kematian, umumnya seseorang akan menyiapkan pakaian ini saat ada anggota keluarga yang telah lanjut usia. Bahkan, ada beberapa orang yang secara gamblang meminta salah satu anggota keluarganya untuk disiapkan pakaian ini. 

Seseorang tidak bisa sembarangan membeli pakaian ini seperti pesan bunga papan duka, karena harus disesuaikan dengan hari dan bulan yang baik menurut buku Thong Su. Pakaian ini dikenal sebagai “Sui I” berdasarkan kesaksian Martin C. Yang, pakaian Sui I akan segera dipakaikan pada orang sakit yang diperkirakan tidak memiliki umur panjang.

2.      Pakaian berkabung
Hao Lam (orang berkabung) diwajibkan untuk mengenakan pakaian serba putih termasuk topi putih dari material blacu. Orang Tionghoa yang menerapkan nilai-nilai tradisi dalam kesehariannya akan lebih memilih mengenakan pakaian hitam. 

Sebagai tanda berkabung, dipakaian ini akan dipasang Ha tepatnya di lengan baju sebelah kiri. Tujuan mengenakan pakaian berkabung ini untuk membantu meringankan kesakitan orang yang telah meninggal.

3.      Peti mati
Mungkin banyak orang yang menilai jika peti mati khas Tionghoa sangat menyeramkan terutama bila dibandingkan dengan bunga duka Adijasa, karena ukurannya berat dan memiliki ukiran kuno. Tapi bagi orang Tionghoa, adalah kebanggaan sendiri bila bisa membeli peti mati karena berdasarkan pada kepercayaan mereka, siapa pun yang mampu membeli maka akan memperoleh limpahan rezeki.

Bagi orang Tionghoa, peran bunga papan duka cita, masih kalah jauh dengan peti mati. Karena peti mati digunakan sebagai saran penghantar jenazah hingga masuk ke dalam kubur. Biasanya, semua barang kesayangan milik almarhum akan dimasukkan bersama jenazah ke dalam peti mati. Peti mati yang mahal adalah bukti Hao dari anak yang ditinggalkan, dan kebiasaan atau tradisi turun temurun ini tidak bisa ditawar harganya.

4.      Lilin
Zaman sekarang pesan bunga papan duka Surabaya banyak dipilih orang sebagai ungkapan penghormatan dan belasungkawa namun menurut tradisi Tionghoa, lilin adalah tanda berduka yang sesungguhnya. Selain sebagai ungkapan tanda berduka, lilin adalah tanda jika pelayat tidak akan membawa keburukan atau kesialan. Berdasarkan kepercayaan orang Tionghoa, seseorang tidak boleh kena tetesan air lilin karena akan membawa sial di sepanjang usia.

5.      Tempat dupa
Hio Lo adalah bokor berukuran kecil yang berfungsi untuk menancapkan dupa. Tempat dupa ini memiliki dua kuping yang di bagian depannya terdapat tulisan Hi. Biasanya, Hio Lo ini dibuat dari material timah tapi kini banyak juga yang membuatnya dari tanah liat. Orang Tionghoa percaya jika Hio Lo yang telah diisi dengan abu dapur merupakan perwujudan dari abu leluhur sehingga harus terus dirawat hingga turunan selanjutnya.

Hio(dupa) adalah alat sembahyang, ketika dibakar akan mengeluarkan aroma harum sama harumnya dengan bunga yang dibeli di toko bunga Adijasa. Ada makna tersirat yang terkandung dalam kegiatan pembakaran hio yakni untuk menemukan jalan suci. Melalui Hio dapat terjalin hubungan erat dan komunikasi yang kuat di antara orang mati dan yang masih hidup.

Tata cara pemakaman

Pada umumnya, seseorang akan pergi ke rumah duka Adijasa untuk menghormati orang yang sudah tiada, lalu ikut ke pemakaman untuk melihat prosesi penguburan jenazah. Dalam tradisi Tionghoa yang sesungguhnya, tindakan penguburan memang cara yang tepat untuk mengantarkan jenazah ke tempat terakhirnya tapi semakin ke sini, banyak yang lebih memilih untuk melakukan kremasi. 

Berikut ini tata cara pemakaian Tionghoa:

·         Sembahyang Tutup Peti
Pada masa persemayaman, jenazah akan disembah di bawah pimpinan Sai Kong atau Bikhuni. Semua anggota keluarga dikumpulkan dan sudah harus mengenakan pakaian berkabung, anggota keluarga diminta membakar dupa kemudian berlutut serta mengelilingi peti mati jenazah sebagai tanda penghormatan.

Setelah ditetapkan jam dan harinya, jenazah akan dimasukkan dalam peti bersama-sama dengan barang kesayangan almarhum baru ditambahkan uang kertas sembahyang. Ketika jenazah sudah berada dalam peti, anggota keluarga akan mulai melakukan sembahyang tutup peti.

·         Perjalanan Menuju Tempat Pemakaman
Pada kesempatan ini, anggota keluarga wajib memberikan korban daging, kue dan buah-buahan setelah upacaranya selesai, semua korban tersebut boleh dibawa pulang lagi untuk dimakan bersama-sama sehingga memperoleh rezeki dan keberkahan.

Untuk menunjukkan rasa kasih dan saya seorang anak pada orang tua yang sudah meninggal, maka mereka wajib berjalan dengan telanjang kaki hingga persimpangan jalan baru diizinkan masuk dalam mobil jenazah yang akan mengantarkannya hingga ke liang lahad. Jika tidak sempat mengurus semuanya sendiri, ada Adijasa Surabaya yang siap memberikan bantuan.

·         Sembahyang di Kubur
Prosesi penyembahan di kubur dilaksanakan dengan membakar dupa dilanjutkan dengan berlulut dan mengeliling peti jenazah semua proses tersebut akan dipimpin oleh padre. Pasca proses sembahyang di kubur berakhir, dilakukan tabur bunga yang bunganya bisa dibeli di toko bunga Surabaya.

Ada juga ritual lainnya selain menebar bunga yaitu ritual pelepasan burung merpati atau ritual menguburkan boneka tepat di sebelah kuburan dengan maksud agar bisa menemani roh tersebut atau agar roh yang telah mati tidak meminta atau mengajak orang yang masih hidup.

·         Perjalanan Pulang
Pihak berkabung akan membagikan ang pao pada pelayat sebagai ucapan terima kasih sementara itu anak sulung ditugaskan untuk membawa Hio Lo dengan posisi dupa menyala sedangkan anak lain memegang foto almarhum.

Sepanjang perjalanan pulang ini, semua anak almarhum hendaknya memberikan komando yang diucapkan secara bersamaan pada roh yang dibawa dari Hio Lo sehingga roh tidak akan tersesat. Hio Lo ini nantinya diletakkan di rumah anak tertua untuk bisa disembah oleh seluruh anggota keluarga.

Tradisi Tionghoa yang berkaitan dengan kematian masih kental dengan nilai leluhur yang mengharuskan menyelenggarakan prosesi sembahyang di rumah, tapi kini banyak yang lebih memilih pergi ke Adijasa Surabaya untuk mengurus semuanya termasuk proses sembahyang.


Agustina florist adalah toko bunga yang dekat dengan rumah duka Adi Jasa Surabaya, siap melayani pemesanan karangan bung aucapan duka.
Hubungi kami :

HP : 0812 3343 7027

Website : clianthabunga.com


Belum ada Komentar untuk "Daftar Perlengkapan Proses Pemakaman Dalam Adat Tionghoa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel